{"id":35099,"date":"2025-11-17T11:15:15","date_gmt":"2025-11-17T02:15:15","guid":{"rendered":"https:\/\/sundalandstar.com\/?p=35099"},"modified":"2025-11-17T11:56:50","modified_gmt":"2025-11-17T02:56:50","slug":"bukan-sekadar-csr-mengapa-dus-duk-duk-percaya-pada-lindungihutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sundalandstar.com\/?p=35099","title":{"rendered":"Bukan Sekadar CSR: Mengapa Dus Duk Duk Percaya pada LindungiHutan"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, 17 November 2025 \u2014 \u201cMomentum itu kalau diingat, saya masih sering merinding,\u201d kenang Arief Susanto, CEO sekaligus Founder Dus Duk Duk, tentang penanaman mangrove di Belitung Timur bersama LindungiHutan. Baginya, momen itu bukan hanya tentang menanam pohon, tapi menanam harapan dan kesadaran baru tentang arti keberlanjutan.<\/p>\n<p>Hari itu, 21 Agustus, bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia, menjadi titik balik bagi Dus Duk Duk. Arief masih ingat bagaimana masyarakat menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat. <\/p>\n<p>\u201cYang paling menyentuh adalah ketika masyarakat datang langsung menyampaikan terima kasih. Rasanya luar biasa, ternyata langkah kecil kami benar-benar bermakna,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h3>Dari Kardus ke Gerakan Lingkungan<\/h3>\n<p>Nama Dus Duk Duk mungkin terdengar ringan, tapi filosofi di baliknya dalam, \u201ckardus untuk duduk.\u201d <\/p>\n<p>Didirikan pada 2013 saat Arief masih kuliah di ITS, perusahaan ini bermula dari furnitur berbahan kardus daur ulang. Kini, setelah 12 tahun, Dus Duk Duk telah berevolusi menjadi industri kreatif dengan empat lini utama, yaitu Dus Duk Duk (dekorasi event berbasis kardus), TOTOYS (mainan edukatif anak), Paperoom (furnitur daur ulang), dan Packimpact (kemasan ramah lingkungan).<\/p>\n<p>Bagi Arief, sustainability bukan sekadar tren, melainkan prinsip hidup. <\/p>\n<p>\u201cSejak awal berdiri, nilai utama kami adalah ramah lingkungan. Istilah sustainability mungkin baru populer belakangan, tapi buat kami, ini sudah jadi DNA perusahaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h3>Benang Merah: Pohon dan Kardus<\/h3>\n<p>Arief melihat hubungan yang erat antara bisnisnya dan alam. \u201cKardus itu berawal dari kertas, dan kertas dari pohon. Maka sudah seharusnya kami mengembalikan apa yang kami gunakan kepada Bumi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dari pemikiran itu, Dus Duk Duk memutuskan untuk berkolaborasi dengan LindungiHutan dalam program CollaboraTree, menanam pohon di berbagai lokasi konservasi. Kolaborasi ini telah berlangsung sejak 2023 dan menjadi bagian dari setiap proyek mereka. <\/p>\n<p>\u201cSetiap dekorasi event yang kami kerjakan selalu diikuti dengan penanaman pohon. Kami ingin memastikan setiap karya kreatif kami menumbuhkan kehidupan baru bagi Bumi,\u201d tutur Arief.<\/p>\n<h3>Mengapa Memilih LindungiHutan?<\/h3>\n<p>Ketika mencari mitra untuk menjalankan program lingkungan, Dus Duk Duk tak sembarangan. <\/p>\n<p>\u201cDari komunikasi, transparansi laporan, sampai keberlanjutan program, LindungiHutan selalu konsisten. Jadi kami memilih mereka bukan karena viral, tapi karena sudah kami amati sejak lama,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Kepercayaan itu lahir dari komitmen LindungiHutan dalam transparansi, pelaporan yang akuntabel, dan pendekatan berbasis komunitas di lapangan. <\/p>\n<p>Lewat jaringan petani dan masyarakat lokal, setiap donasi yang masuk benar-benar kembali ke alam, baik melalui penanaman mangrove, pohon endemik, maupun rehabilitasi lahan kritis.<\/p>\n<h3>Kolaborasi yang Menyuarakan Alam<\/h3>\n<p>Selain menanam pohon, Dus Duk Duk juga melahirkan platform \u201cBangga Membumi\u201d, ruang kolaboratif lintas sektor untuk aksi lingkungan. Dari program adopsi pohon, edukasi lingkungan, hingga pelestarian penyu, semua dilakukan dengan satu semangat: menumbuhkan kepedulian.<\/p>\n<p>Bagi Arief, bisnis berkelanjutan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berpijak pada tiga pilar: People, Planet, Prosperity. <\/p>\n<p>\u201cKalau salah satunya hilang, bisnis tidak akan seimbang. Tanpa menjaga planet, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dikelola,\u201d ujarnya.<\/p>\n<h3>Dari Belitung Timur ke Pulau Pari<\/h3>\n<p>Setelah sukses menanam ratusan mangrove di Belitung Timur, Dus Duk Duk melanjutkan langkah hijaunya ke Pulau Pari, Kepulauan Seribu. <\/p>\n<p>Melalui program ini, sudah terkumpul 284 pohon Rhizophora dari target 500 pohon yang akan ditanam pada 31 Desember 2025. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan dapat tumbuh bersama.<\/p>\n<h3>\u201cBisnis Baik Harus Menumbuhkan Kehidupan\u201d<\/h3>\n<p>Dari kursi kardus sederhana hingga penghargaan Forbes Indonesia 30 Under 30 (2020) untuk kategori Creative &amp; Social Entrepreneurship, Arief membuktikan bahwa inovasi dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan. \u201cApapun yang kami lakukan, dari kardus daur ulang hingga penanaman mangrove, semua berawal dari satu hal, yakni cinta pada Bumi,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Melalui kemitraannya dengan LindungiHutan, Dus Duk Duk menegaskan satu pesan penting: bisnis yang baik bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menumbuhkan kehidupan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 17 November 2025 \u2014 \u201cMomentum itu kalau diingat, saya masih sering merinding,\u201d kenang Arief Susanto, CEO sekaligus Founder Dus &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":35101,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-35099","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35099","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=35099"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35099\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":35100,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/35099\/revisions\/35100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/35101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=35099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=35099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sundalandstar.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=35099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}