Mengapa Energi Laut Begitu Menjanjikan?
Energi laut tidak intermiten seperti angin dan surya. Arus laut di selat strategis seperti Lombok, Alas, dan Pantar bergerak nyaris konstan sepanjang tahun karena perbedaan tinggi permukaan laut Samudra Pasifik dan Hindia. Kecepatan arus berkisar 2,5–3,5 meter per detik, ideal untuk turbin arus bawah laut. Prinsip kerjanya mirip turbin angin, namun massa jenis air 800 kali lebih besar sehingga menghasilkan daya besar dari rotor yang relatif kecil. Potensi teknis yang tercatat dalam Peta Potensi Energi Laut Kementerian ESDM mencapai 17 GW dari arus laut dan 43 GW dari gelombang dan termal.
Proyek Percontohan Selat Lombok dan Kolaborasi BRIN
Setelah bertahun-tahun dalam fase studi, Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama mitra industri menuntaskan instalasi turbin arus laut skala 100 kW di Selat Lombok pada awal 2026. Proyek ini memasok listrik ke Pulau Gili Trawangan yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada kabel bawah laut dari Lombok. Data kinerja turbin dipublikasikan secara real-time di portal kkp.go.id/brsdm sebagai bagian transparansi riset kelautan. “Stabilitas pasokan arus laut terbukti sangat tinggi, mencapai kapasitas faktor di atas 70 persen, lebih tinggi dari PLTS atau PLTB manapun,” jelas peneliti utama BRIN dalam laporan tengah tahun.
Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC): Listrik dari Perbedaan Suhu
Selain arus, Indonesia menyimpan potensi OTEC lewat perairan dalam yang dingin. Perbedaan suhu 20 derajat Celsius antara permukaan dan kedalaman 1000 meter di perairan Sulawesi Utara dan Bali dapat digunakan untuk menggerakkan siklus Rankine. Meski efisiensi rendah (3-5 persen), OTEC menawarkan listrik kontinu 24 jam serta produk sampingan berupa air tawar dari proses desalinasi. Proyek uji coba OTEC berkapasitas 1 MW direncanakan di lepas pantai Bali Utara oleh konsorsium Jepang-Indonesia, dengan target operasi 2028.
Tantangan Teknis dan Lingkungan
Korosi air laut, biofouling, dan biaya instalasi bawah air menjadi tantangan utama. Namun, dengan makin matangnya teknologi turbin dan rantai pasok global, LCOE energi laut diproyeksikan turun drastis pada 2030. Kajian Kementerian Kelautan juga memastikan lokasi turbin dihindarkan dari jalur migrasi mamalia laut. Jika investasi dan regulasi terus dipacu, energi laut dapat menjadi diferensiator Indonesia dalam bauran energi nasional berbasis kelautan.
